Selasa, 18 Desember 2012

PENDIDIKAN YANG BERKARAKTER

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh....
Mengawali tulisan pertama ini, marilah kita bersepakat bahwa setiap dari kita memiliki nurani sebagai pendeteksi baik dan buruknya sebuah perilaku atau tindakan setelah nurani melakukan tugasnya dengan baik, selanjutnya kita bersepakat lagi bahwa kesanggupan kita hidup dan memijakkan kaki diatas bumi ini pasti dan mutlak untuk bertindak dan pada kondisi inilah indra fisik kita melakukan tugasnya yang selanjutnya akan dinilai oleh orang yang melihatnya.  Penilaian ini tentunya akan sangat subjektif, dan karena yang dinilai adalah apa yang nampak maka terkadang ketidakadilan itu muncul sebagai konsekuensi dari penilaian tersebut. 

Dalam beberapa kasus pendidikan yang marak hari ini, kita sering menemukan berbagai kejanggalan-kejanggalan yang terjadi di dalam proses mendidik, baik itu di dalam proses belajar mengajar ataupun interaksi informal antara guru dan murid, sebagai contoh, sikap hormat murid terhadap guru ini semakin terkikis dikarenakan asumsi bahwa karakter murid telah habis terkikis oleh globalisasi dan menyeret para pelaku pendidikan untuk menggalakkan apa yang disebut dengan "pendidikan karakter" dimana akan disisipkan sentuhan-sentuhan nilai dalam proses pembelajaran lebih spesifik lagi di dalam kurikulum pendidikan nasional.

Indonesia sebagai sebuah bangsa yang majemuk kini mengambil langkah untuk memeta-metakan segala kebijakan melalui otonomi daerah dan pendidikanpun tak lepas dari sistem tersebut, apalagi sekarang lebih dispesifikkan melalui Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang memberikan kewenangan penuh terhadap sekolah masing-masing dalam menjabarkan kurikulum berdasarkan kebutuhan internalnya. Dampaknya akan sangat mudah ditebak bahwa output dari sistem tersebut akan sangat berbeda tergantung pada sekolah yang memiliki keterampilan dan visi yang baik akan menciptakan keluaran yang berkualitas pula dan begitupun sebaliknya.

Nah sekarang mari kita melihat secara saksama apakah yang kita maksudkan sebagai keluaran berkualitas itu adalah lepasan-lepasan yang memiliki nilai UAN yang tinggi atau yang memiliki moral yang baik? kita akan sangat naif ketika kita memilih opsi yang pertama karena seperti yang saya kemukakan diawal paragraf bahwa yang dapat dinilai itu adalah yang nampak, karena dia memiliki indikator yang jelas untuk diberikan penilaian, sedangkan yang tidak nampak akan sangat sulit dinilai, kecuali kita merelakan waktu kita melalui proses pendekatan persuasif dalam menilai moral yang bersembunyi dibalik balutan kulit setiap siswa.

Pada bangku sekolah dasar hingga menengah atas, roster mata pelajaran akan sangat banyak didapatkan mata pelajaran yang memang mengkhusus kepada pengembangan intelektual siswa, indikatornya sangat jelas, pelajaran Agama dan PMP hanya dua jam tiap minggunya sedangkan yang lain ada yang tiga bahkan empat jam tiap minggunya, pertanyaannya kemudian, dapatkan kedua mata pelajaran tersebut membendung potensi siswa untuk bertahan pada nilai-nilai moral ditengah derasnya arus globalisasi saat ini?
jawabannya sudah pasti "tidak". Ini hanya sebagian kecil dari faktor penyebab terkikisnya karakter siswa, belum lagi masalah ekonomi, lingkungan, dan teknologi yang sangat banyak memberikan sumbangsih negatif terhadap perkembangan mental anak. kalau masalahnya sudah se-kompleks ini maka kita akan pontang-panting mancari solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini. 

Mari kita sejenak flash back pada pola pendidikan tradisional yang lebih menanamkan nilai-nilai dalam setiap proses pembelajaran. kita dapat melihat betapa gairah belajar orang-orang desa sangat besar hingga rela berjalan kaki berkilo-kilo, menyebrangi sungai dan berpanas-panasan menuju ke sekolahnya, hal ini tak lain karena ada daya tarik yang sangat besar oleh proses pendidikan disekolahnya sehingga mereka rela berusaha sekeras itu . Berbeda pada sekolah di kota yang modern, dimana siswanya mapan dan berkecukupan serta ditunjang dengan fasilitas yang memadai justru banyak yang bolos, tawuran dan lain-lain. Saya tidak akan menyarankan untuk memindahkan semua siswa kota ke desa karena sudah pasti tidak akan banyak membantu, ini hanya sekedar pembanding bagi kita untuk mencari akar permasalahan dari problematika pendidikan di Indonesia.

Sekali lagi dalam proses pencerdasan anak manusia memang seharusnyalah kita merenung tentang arti dan fungsi pendidikan terhadap bangsa dan negara tercinta ini sebagai salah satu bentuk dedikasi kita sebagai rakyat. pendidikan tidak dapat kita nafikkan sebagai salah satu unsur yang sangat penting di dalam hidup ini, jadi mari berbuat untuk pendidikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar